Tari Bedayo Tulang Bawang
1. Sejarah Tari Bedayo Tulang Bawang
Musyawarah
Warganegara mengatakan bahwa Tari Bedayo Tulang Bawang dahulunya
diciptakan atas permintaan menak sakawira dan adiknya menak Sangecan
Bumi keturunan dari Putri Bulan. Di kampung tua bujung menggala
kecamatan Tulang Bawng Udik. Tidak begitu jelas siapa yang sesungguhnya
menciptakan tarian ini. Di duga tari bedayo tulang bawang diciptakan
bersama-sama oleh sekelompok orang yang disuruk Menak Sakawira.
Konon
munculnya tari Bedayo Tulang Bawang dikarenakan adanya wabah penyakit
yang melanda kampung Bujung menggala. Wabah atau penyakit yang melanda
kampung bujung itu adalah penyakit “taun”. Istlah taun adalah setan,
yaitu penyakit yang mematikan berupa penyakit cacar yang disebabkan oleh
mahluk halus yang lazimnya dsebut setan, sehingga menelan banyak
korban.
Berbagai
usaha yang dilakuka pada saat itu namun tidak kunjung hilang penyakit
tersebut. Kemudian menak Sakawira pergi menyepi atau bertapa selama 9
hari di kampung Bujung Menggala. Disanalah menak Sakawira bersemedi di
depan gundukan tanah berundak dalam bahasa lampung khas menggala disebut
dengan tambak dan memohon kepada dewa pun agar kampung yang dilanda
penyakit tersebut cepat berhenti.
Selama
pertapaanya menak Sakawira mendapatkan wangsit agar megadakan upacara
dan memotong kambing hitam. Diiringi sebuah tarian sakral. Tarian ini
harus berjumlah 12 orang penari wanita ynag masih suci (suci atau bersih
secara spiritual) serta diiringi oleh gamelan klenongan, (klenongan
adalah seperangkat alat music yang terdiri dari : tempul, gong, kendang,
kulintan).
Setelah
Menak Sakawira Bermusyawarah dengan sesepuh adat dan mayarakat kampung,
terlaksanalah pementasan tarian tersebut. Pementasan Tari Bedayo Tulang
Bawang menghadap ke timur, atau mengarak kepada matahari. Menurut adat
Tulang Bawang, arah timur merupakan awal munculnya keterangan atau
cahaya dunia. Bila dihubungkan dalam kehidupan manusia adalah munculnya
energi kehidupan untuk melakukan kegiatan berkarya atau beraktivitas.
Ratu
Dandayati juga menerangkan bahwa pada mulannya tari Bedayo Tulnag
Bawang disebut tari pemujaan atau penyembuh penyakit. Dalam bahasa
Lampung istilah penyembuhan penyakit dinamakan ngeguai munyai atau
ngemunyaiko. Tarian ini dipentaskan dengan music klenongan memakai tubuh
atau gending rajo menggalo dan dipersembahkan kepada Dewa Pun. Agar
dihindarkan dari malapetaka yang melanda tiyuh tersebut. Tarian ini
dipentaskan hamper detiap bulan bara (bulan purnama).
Tarian
pemujaan itu dipentaskan di Candi Gughi yang disaksikan oleh banyak
orang-orang disekitarkampung Bujung Menggala. Acara pementasan tari
pemujaan pada saat itu sudah menjadi satu kebiasaan orang Menggala
khususnya di Kampung Bujung Menggala. Saking seringnya orang portugis
melihat pertunjukan tersebut setiap bulan purnama. Sehingga kegiatan
tersebut disebut dengan kebudayaan orang Menggala Tulang Bawang. Dengan
demikian orang Menggala menyebut tarian pemujaan itu adalah Tari Budayo
Tulang Bawang.
Asal
kata bedayo berasal dari kata budaya. Sedangkan kata Ttulang Bawang
menunjuk pada daerah. Oleh karena tari Bedayo hanya terdapat di
kabupaten Tulang Bawang saja dan tidak terdapat di Kabupaten Tulang
Bawang saja tidak terdapat di daerah lainnya yang ada di Lampung.
Istilah
kata Bedayo terdapat pada pengucapannya orang menggala pada kata budaya
menjadi budayo kemudian budayo menjadi bedayo. Sehingga dari sanalah
kata bedayo tulang bawang dibentuk. Perubahan dari kata budayo menjadi
bedayo karena kebiasaan bicara orang menggala selalu berlagu atau
diperpancang saat bicara. Istilah kata tari bedayo tulang bawang juga
karena pengaruh dialek yang dimilki oleh masyarakat Tulang Bawang yang
beradat pepadun dan pada saat selesai berbicara selalu berakhir dengan
huruf vokal “O”.
Tari
bedayo tulang bawang ditarikan oleh dua belas penari putri. Keduabelas
penari itu sama-sama menari dengan gerak dan kostum yang sama. Dari
kedua belas penari tersebut hanya tiga orang penari yang membawakan
sesajen, namun tetapmenari dengan gerakan yang sama. Ketiga penari yang
membawa sesajen itu berada paling depan dan Sembilan penari
lainnyaberada di belakang. Kemudian masih ada satu orang putra yang
membawa payung sebagai pengiring tari Bedayo Tulang Bawang namun tidak
dalam posisi menari.
Adapun sesajen yang dibawa ketiga penari putri tersebut antara lain :
1. Beras kuning yang dicampur dengan kunyit dan bunga.2. Kemenyan
3. Daun salah.
1. Otak berfungsi untuk mengingat.
2. Mata berfungsi untuk melihat
3. Mulut berfungsi untuk berbicara
4. Telinga berfungsi untuk berbicara
5. Hidung berfungsi untuk mencium
6. Hati berfungsi untuk merasakan
7. Syaraf berfungsi untuk berfikir
8. Tangan berfungsi untuk meraba
9. Kaki berfungsi untuk melangkah
- Kemenyan atau stagi disebut pengembus atau embun yang berada paling atas atau pengighit (pikiran), yang artinya tiada asap api tiada bau wangi tanpa pembakaran, ini mempunyai makna agar manusia mengetahui asal usul tujuan hidup.
- Beras kuning mempunyai makna kesuburan dan keselamatan yang ditempatkan pada bagian tengah atau penengah ucapan, dan
- Daun salah atau kayu sasao dan bunga yang ditempatkan paling bawah atau pebetut. Mempunyai makna bahwa kekuasaan Tuhan yang ada pada diri manusia yaitu agar semua ajaran-ajaran kebenaran dapat dijalankan dengan sebaik-baiknya serta diampuni segala dosannya.
Tari
bedayo Tulang Bawang memang disusun kembali dengan tujuan sebagai
pelestarian seni daerah . oleh karena itu perlu dilihat kembali
perkembangan tarian ini dimasa yang akan datang. Peristiwa-peristiwa
yang dianggap penting dilaksanakan sebagai suatu upacara dengan
rangkaiaan dan tatanan sesuai dengan kepercayaan dan tradisi yang sudah
dijalani secara turun temurun. Tindakan yang dilakukan ini berhubungan
dengan kehidupan sehari-hari, alam lingkungan dan penguasaanya.
Hal
ini dimenggala disebut naik pepadun atau pemberian gelar adat. Dalam
pelaksanaan pemberian gelar adat biasanya ada serangkaiaan seni yang
ditampilkan sebagai pelengkap upacara tersebut.
Tari bedayo tulang bawang memiliki beberapa gerak dasar pokok yang sudah menjadi gerak inti misalnya :
1. Lapah tebeng (melangkah)2. Gerak sembah pebukau (Menyembah)
3. Gerak samber melayang (gerak burung terbang)
G. Iringan
Proses penyusunan tari bedayo tulang bawang dari awal sampai selesai diiringi oleh alat music klenongan. Yang sering disebut dengan talo balak. Talo balak secara lengkap berjumlah 19 buah instrument yang dimainkan oleh 9 orang penabuh disebut dengan penayakan. Dalam penyajiannya semua alat tersebut dibunyikan secara bersama-samaatau sebagian saja sesuai denagn aturan yang ada.
H. Tata rias dan busana
Dalam
pementasan Tari Bedayo Tulang Bawang tat arias yang dipergunakan adalah
tata rias koretif yaknirias cantik dengan mempertebal garis-garis pada
mata,bibir,pipi dan hidung.warna pokok pemakaian tata rias bedayo adalah
putih, kuning dan biru pada kelopak mata. Sedangkan warna merak dipakai
pada bagian pipi.
Busana yang di pakai:
1. Siger atau mahkuto2. Kalung jimat
3. Gelang kano
4. Tapis cucuk kanda
5. Tapis tutup dada
6. Ikat pinggang kuning
7. Selendang
8. Tanggais









0 komentar:
Posting Komentar